Penebangan Berdampak Rendah: Komitmen Menuju Kelestarian
Apr 3, 2018

Penebangan Berdampak Rendah: Komitmen Menuju Kelestarian

Konsesi kayu hutan alam Indonesia (HPH) mencapai lebih dari 20 juta hektar kawasan hutan dan oleh karena itu merupakan mitra penting dalam memajukan pengelolaan hutan lestari. Konsesi hutan yang dikelola dengan baik dengan menerapkan praktik-praktik terbaik dan modern dapat mempertahankan hutan bernilai konservasi tinggi, melestarikan habitat satwa liar, dan menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang. Namun,  kurangnya kapasitas menyebabkan sebagian besar HPH mengoperasikan praktik-praktik penebangan sederhana tanpa rencana pemanenan yang terperinci dan prosedur mitigasi. Selain dapat menurunkan tingkat produktivitas, penebangan cara ini dapat menyebabkan degradasi hutan yang semestinya dapat dihindari, emisi gas rumah kaca yang signifikan, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Untuk memenuhi tantangan ini, USAID LESTARI melaksanakan pelatihan dalam Penebangan Berdampak Rendah (Reduced Impact Logging/RIL) untuk 9 HPH mitra yang mencakup area seluas 618.000 hektar di Provinsi Kalimantan Tengah dan Papua. RIL adalah rangkaian teknik pemanenan hutan modern yang menghasilkan efisiensi lebih besar dan tingkat kerusakan lebih rendah pada pohon, tanah, dan air. Beberapa teknik RIL kunci meliputi: (1) penebangan pohon terarah; (2) membangun kawasan perlindungan daerah aliran sungai (DAS); (3) menggunakan teknologi yang lebih baik untuk mengurangi kerusakan tanah; dan (4) meminimalkan pembangunan jalan. Implementasi RIL dapat mengurangi kerusakan tegakan pohon sebesar 32%, limbah kayu sebesar 12%, dan emisi hingga 40% jika dibandingkan dengan penebangan konvensional. Selain manfaat lingkungan tersebut, RIL telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas hingga 33%.

 Pelatihan RIL dilaksanakan oleh dua mitra berpengalaman: The Tropical Forest Foundation (TFF) dan Lembaga Wana Aksara (LWA). Mulai Maret 2018,  kedua mitra ini telah mengirimkan sekitar 70% modul pelatihan. Setelah selesai, LESTARI akan bekerja dengan manajemen HPH sehingga praktek RIL diadopsi ke dalam Prosedur Operasi Standar Perusahaan (SOP) dan implementasinya dipantau secara teratur. Ini akan memastikan bahwa pelatihan RIL diterjemahkan ke dalam komitmen nyata dan jangka panjang untuk memperbaiki cara pengelolaan hutan di lapangan. Sementara itu, HPH akan mendapatkan manfaat berupa penghematan biaya, langkah-langkah menuju sertifikasi FSC, dan akhirnya akses ke pasar premium.

Yang paling signifikan, LESTARI telah mampu menunjukkan nilai inisiatif ini kepada mitra-mitra pemerintah Indonesia dan mengkatalisasi dampaknya secara nasional. LESTARI telah bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengembangkan pedoman yang akan mewajibkan RIL kepada setiap HPH yang beroperasi di Indonesia. Peraturan Menteri yang inovatif ini sedang dalam tahap finalisasi dan diperkirakan akan dikeluarkan sekitar Mei 2018.

Comments

comments